Tampilkan postingan dengan label Khutbah Idul Fitri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah Idul Fitri. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Agustus 2012

Khutbah Idul Fitri 1433.H / 2012.M

RAMADHAN SEBAGAI REFLEKSI MEMBANGUN KESHOLEHAN PRIBADI


الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر.

إنَّ الحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ ونَستَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِالله مِنْ شُرُورِ أنفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أعْمَالِنا مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ ومن يُضْلِلْ فَلا هَادِي لَهُ، أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى ألِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى ألِ إِبْرَاهِيْمَ ِفي اْلعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَالْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا أَلَا وَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

Allahu Akbar 3x wa lillahil Hamd,
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.
Marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kenikmatan ibadah, dalam bulan Ramadhan yang baru saja berlalu, demikian juga ibadah shalat Id pada pagi hari ini, karenanya kita berharap semoga semua itu dapat mengokohkan ketaqwaan kepada Allah SWT dalam menjalani sisa umur dalam kehidupan di dunia ini. Konsekuensi dari taqwa yang membuat kita bisa keluar dari berbagai persoalan hidup dan mengangkat derajat menjadi ummat yang mulia di hadapan Allah SWT. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan para penerus risalahnya hingga akhir zaman kelak nanti.
Sekali lagi bulan Rmadhan yang penuh berkah dan kemulian telah berlalu, Ramadhan merupakan bulan penuh rahmat dan ampunan (maghfirah) telah memotong umur kita pada tahun ini untuk kembali pada tahun berikutnya. Boleh jadi kita masih berjumpa dengan bulan ini pada tahun yang akan datang, namun tidak menutup kemungkinan bahwa Ramadhan yang telah berlalu itu merupakan penghabisan bagi kita Allahu’alm bi shawab.
Allahu Akbar 3x wa lillahil Hamd,
Ma’asyiral Muslimin yang berbahagia.
Suasana pagi ini semua kita memiliki perasaan sama yang diselimuti rasa kegembiraan. Gembira bukan karena banyak makanan dan minuman tersedia di rumah, bukan karena uang lebih dari cukup dan bukan pula karena pakaian serba baru. Namun gembira karena berada dalam kefitrahan atau kesucian jiwa, kebersihan hati setelah melaksanakan ibadah Ramadhan, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فَرَضَ صِيَامَ رَمَضَانَ وَسَنَنْتُ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِحْتِسَابًا خَرَجَ مِنَ الذُّنُوْبِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.
“Sesungguhnya Allah yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi mewajibkan puasa Ramadhan dan aku mensunnahkan shalat malam harinya. Barangsiapa puasa Ramadhan dan shalat malam dengan mengharap ridha Allah, maka dia keluar dari dosanya seperti bayi yang dilahirkan ibunya.” (HR. Ahmad).
Oleh karena itu seyogianya juga kita diliputi oleh rasa kesedih duka yang mendalam karena Ramadhan yang sudah berlalu belum kita jalani dengan penuh kesungguhan, mungkin banyak di antara kita yang berpuasa hanya sekedar meninggalkan tidak makan dan tidak minum di siang hari Ramadhan, shalat tarawih hanya mengejar jumlah rakaat tanpa kekhusyukan, tilawah atau tadarus Al-Qur’an yang hanya mengejar target khatam tanpa berusaha untuk memahaminya (tadabbur), demikian juga terlalu sayang dengan harta benda sehingga tidak mau bersedekah atau hanya sedikit bersedekah dibandingkan dengan banyaknya harta yang kita peroleh. Padahal tidak ada jaminan bahwa tahun yang akan datang berjumpa dengan Ramadhan karena mungkin saja umur kita tidak sampai pada Ramadhan tahun berikutnya sebagaimana hal itu dialami oleh orangtua, sanak saudara, handai taulan, teman sejawat dan jamaah kita, hingga tokoh-tokoh kita yang sudah lebih dahulu dipanggil menghadap kepada Allah SWT.
Allahu Akbar 3x wa lillahil Hamd,
Ma’asyiral Muslimin yang Terhormat.
Selain daripada itu perlu dicatat bahwa Ramadhan yang telah usai merupakan traning centre sebagai sarana pendidikan kepribadian (tarbiyah) dan pembinaan yang luhur dan komprehensif, baik untuk pembinaan ruhiyah (mental spiritual), jasadiyah  (badan), ijtima’iyah  (sosial),  khuluqiyah (akhlaq),  hadloriyah  (peradaban)  serta jihadiyah (perjuangan) pada diri umat Islam. Ibarat sebuah lembaga pendidikan yang mempunayi standarisasi, yang di dalamnya para pelajar digembleng, dididik, dilatih dan dibina secara ketat, sehingga kelak setelah selesai belajar menjadi pelajar mumpuni dalam bidangnya, berprestasi terbaik, dan unggul (dapat bersaing) serta berdaya guna. Ketika mereka dididik dengan materi silabus yang sesuai, ditempa dengan pembinaan yang maksimal dan kurikulum yang jelas dan terarah, maka kelak mereka menjadi sosok yang bukan saja memberikan maslahat untuk dirinya sendiri namun juga akan bermanfaat untuk keluarga, lingkungan, masyarakat dan Negara serta agamanya, bukan sebaliknya dengan pola pendidikan yang instan tanpa memperhatikan nilai-nilai moralitas justru akan menghancurkan pribadinya bahkan akan menjadi orang bermasalah dalam hidupnya sehingga akan merusak tatan hidup masyarakat.
Akhir-ahkir ini kita agak terperanjat dan tentu kita menyadari betapa banyak pribadi, keluarga, masyarakat, jamaah hingga bangsa dan negara yang tidak baik, amat jauh perjalanan hidupnya dari ketentuan yang digariskan oleh Allah SWT, bahkan bisa jadi kita termasuk orang yang demikian, semua itu berpangkal pada hati yang rusak akibat pola pendidikan yang tidak menjunjung tinggi nilai-nilai moral. Oleh karena itu hati memiliki kedudukan sentral yang sangat urgen dalam menentukan arah kepribadian seseorang. Baik dan buruknya seseorang sangat tergantung bagaimana keadaan hatinya, bila hatinya baik maka baiklah orang itu dan bila hatinya rusak maka rusaklah orang itu, sebagaimana sabda Rasulullah SAW berbunyi:
أَلاَ إِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ.
“Ingatlah, di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, baiklah anggota tubuh dan apabila ia buruk, buruk pulalah tubuh manusia. Ingatlah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikian juga dengan Ramadhan yang di dalamnya terdapat kewajiban, sunnah tarawih, tilawatil Qur’an dan amaliyah lainnya, merupakan sarana penempaan dan pendidikan yang memiliki kurikulum langsung dari Allah SWT, sehingga kelak ketika tamat dari madrasah Ramadhan ini diharapkan menjadi sosok pribadi shalih dan muslih sehingga menjadi panutan bagi generasi sesudah kita kelak (rol model), seperti dalam kaidah Arab disebutkan:
الصَّلاَحُ قَبْلَ الإِصْلاَحِ.
“Perbaiki diri sebelum perbaikan kepada yang lain.”

Atau menjadi pribadi:
الصَّالِحُ وَالْمُصْلِح.
“Baik secara individu dan sosial.”
Sosok pribadi muslim yang mumpuni memiliki syakhshiyah Islamiyah mutakamilah mutawazinah (sosok pribadi Islami yang komprehensif dan seimbang) tidak hanya berjiwa bersih, berbadan sehat dan kuat serta berakhlaq mulia, namun juga memberikan kebaikan kepada dirinya, lingkungan dan masyarakat sekitarnya bahkan juga membawa danpak positif untuk kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukankah Allah SWT tidak akan memperbaiki nasib suatu negeri, bangsa atau kaum, kalaulah bukan kaum itu sendiri yang mengubah nasib negeri, bangsa atau negaranya sendiri, yaitu dengan cara membangun sarana perbaikan jiwa-jiwa secara personal dan mendasar terlebih dahulu, sebagaimana Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka.” (Ar-Ra’ad:11).

Dari hati yang bersih akan mampu merubah dirinya sendiri yang selanjutnya menjadi pribadi yang bertaqwa sebagai danpak pelaksanaan Ramadhan yang sesungguhnya sehingga menjadi orang bertqwa. Namun yang perlu dicatat untuk mencapai tingkat kualitas derajat taqwa tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, tingkat taqwa membutuhkan proses yang sangat panjang yang harus ditempuh oleh setiap muslim, selain harus melandasi dengan basic keimanan yang benar, namun juga menempuh proses berat sehingga mampu memberikan output yang baik dan mulia. Begitulah ketika Allah SWT menginginkan derajat taqwa yang akan diberikan kepada hamba-Nya, dengan landasan iman, proses ibadah puasa yang benar dan hasilnya mencapai tingkat taqwa, sebagaimana Allah SWT telah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (Al-Baqarah:183).

Allahu Akbar 3x wa lillahil Hamd,
Ma’asyiral kaum Muslimin yang Berbahagia.
Hingga saat ini kita belum sadar pada dasarnya terdapat kepincangan antara implementasi taqwa dengan keshalehan. Di satu sisi kita memiliki keshalihan personal yang tinggi di hadapan Allah SWT sementara di sisi lain hak-hak sosial dalam diri kita masih sering kita lalaikan, atau dengan frasa lain bahwa keshalihan sosial berada pada prioritas tertinggi dalam kewajiban sosial sehari-hari, sementara ibadah down grade dan dilalaikan bahkan tidak dilaksanakan sama sekali. Sesungguhnya agama pada esiensi diwahyukan untuk memberikan petunjuk (alhuda) dan sebagai way of life bagi setiap orang. Petunjuk tersebut tidak berlaku hanya untuk diri sendiri dalam konteks keshalehan personal semata, akan tetapi sebaliknya berlaku secara makro pada tataran keshalehan sosial dan personal. Andaikan setiap orang menilik secara bijak antara keshalehan personal dengan keshalehan sosial, keduanya berjalan linier dan saling menyatu membentuk kehidupan yang seimbang bagi hubungan manusia baik secara vertikal maupun horizontal ibarat dua sisi mata uang atau ibarat “au jo tabiang” dalam pepatah urang Minang yang tidak dapat dipisahkan.
Sebuah ilustrasi dalam fakta sosial yang kerap dijumpai dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali ummat Islam yang telah menunaikan rukun Islam kelima yakni ibadah haji ke Makkatulmakarramah lebih dari satu kali bahkan berulang kali bolak balik karena memiliki kemampuan ekonomi yang lebih dari cukup, namun sayang fakta ironisnya masih belum memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Sementara syariat ibadah haji dan ibadah mahdhah lainnya pada dasarnya menjunjung tinggi kesadaran dan empati sosial, semisal muamalat (hubungan sosial), munakahat (hukum keluarga), jinayat (pidana), Qadha (peradilan), dan imamah al siyasah (politik kepemimpinan). Prinsip-prinsip beragama pada dasarnya mengarahkan pandangan (opinion) pada keshalehan sosial dalam arti yang komprehensif.
Sebagai ilustrasi yang lain fiqih telah menganjurkan untuk melaksanakan shalat berjamaah dalam bentuk perintah sunnah muakadah dibandingkan dengan shalat munfarid (sendirian), dengan skla 1 berbanding 27, filosofi dalam shalat berjamaah akan terbangun interaksi sosial yang rukun dan harmonis, terciptanya solidoritas antar sesama, empati satu sama lain dan aspek-aspek sosial lainnya. Demikian juga nilai filsafat ibadah puasa, mengajarkan untuk memiliki sikap tenggang rasa (tepo salareo), peduli, dan solidaritas tinggi yang merupakan tatanan dari kehidupan sosial bukan keshalihan pribadi semata. Sebaliknya agama obyektif  lebih bermakna akhlakul karimah, yakni kontekstualisasi sikap dan perilaku kita pada tataran sosial dengan menyandarkan perilaku tersebut pada ajaran agama salah satu contohnya adalah kejujuran (integritas). Sejarah mengatakan tidak ada satu pun agama di dunia ini yang mengajarkan pemeluknya untuk memiliki sikap tidak jujur dan korupsi, sebagai bukti kontekstualisasi ajaran agama pada aspek perilaku manusia. Agama selalu dilihat pada sisi subjektif dan obyektif sama halnya dengan konsep iman dan amal. Iman bersifat personal tetapi amal merupakan aplikasi iman dalam kehidupan sosial, iman menjadi landasan perilaku baik dalam konteks hubungan vertikal (hablum minallah) maupun hubungan horizontal (hablum minannas wa hablum minal ’alam). Sementara itu agama simbolik adalah agama nisbi yang hadir karena tuntutan dari agama subjektif dan obyektif. Diibaratkan jika agama subjektif dan obyektif adalah ruh dan jiwa, maka agama simbolik adalah raganya.
Allahu Akbar 3x wa lillahil Hamd,
Ma’asyiral Muslimin yang Rahmati Allah SWT.
Jika dibahas lebih konkrit kelihatannya terlalu idealis untuk menyeimbangkan antara keshalehan personal dan sosial, tidak bijak rasanya jika tidak mencoba dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Agama akan menjadi kering dengan hanya menitikberatkan pada pemahaman yang bersifat personal tanpa menghadirkan nilai-nilai sosial di dalamnya. Karena esiensinya agama memiliki peranan yang sangat vital dalam membina prilaku dan mentalitas umat manusia. Agama tidak sekedar memiliki fungsi sebagai aturan kehidupan bagi manusia, sebaliknya agama memegang peranan yang bersifat universal. Ibadah puasa identik dengan pelatihan diri untuk bersikap jujur dan kepekaan sosial, karena puasa bukanlah ibadah raga namun ia merupakan ibadah hati, hanya orang yang  puasa dan Allah SWT sajalah yang tahu bahwa dirinya sedang puasa sehingga Allah SWT langsung menyandarkan kepada-Nya dan Dia sendiri yang akan membalasnya. Sebagaimana dalam hadis Qudsi:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِه.
"Setiap amalan anak cucu Adam akan dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan akan berlipat menjadi 10 kebaikan sampai 700 kali lipat. Allah 'Azza wa Jalla  berfirman, ‘Kecuali puasa, sungguh dia bagianku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim, lafadz milik Muslim).
Sifat jujur adalah tanda bukti keimanan seseorang, karena orang mukmin pasti jujur, andaikan tidak kejujuran, keimanannya harus dipertanyakan dan bahkan sedang terserang penyakit alias virus kemunafikan. Dalam suatu riwayat pernah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW:
“Apakah mungkin seorang mukmin itu kikir?” Rasululullah SAW  menjawab: “Mungkin saja.” Sahabat bertanya lagi: “Apakah mungkin seorang mukmin bersifat pengecut?” Rasulullah SAW menjawab: “Mungkin saja.” Sahabat bertanya lagi, “Apakah mungkin seorang mukmin berdusta?” Rasulullah SAW menjawab: “Tidak.” (Imam Malik dalam kitab al Muwaththo’).
Dalam hadits lainnya Rasulullah SAW juga bersabda:
“Kamu sekalian wajib jujur karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa kepada surga.” (HR Imam Ahmad, Muslim, at-Turmuzi, Ibnu Hibban).

Nilai kejujuranlah sahabat Ka’b bin Malik mendapat ampunan langsung dari langit sebagaimana Allah SWT jelaskan dalam surah at-Taubah dan akhirnya kita pun diperintah oleh Allah SWT untuk mengikuti jejak mereka sebagimana firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ.
“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (At-Taubah:119).

Hanya ada satu kata bahwa sifat jujurlah yang menyelamatkan bahtera kebahagiaan keluarga, masyarakat dan bahkan kelangsungkan hidup bernegara dan kejujuran pulalah yang menyelamatkan seorang muslim dari azab api neraka di kemudian hari. Kejujuran adalah tiang agama, sendi akhlaq, dan pokok kemanusiaan manusia. Tanpa kejujuran, agama tidaklah lengkap, akhlaq tidak sempurna, dan seorang manusia tidak sempurna menjadi manusia. Di sinilah urgensinya kejujuran bagi kehidupan Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Tetap berpegang eratlah pada kejujuran. Walau kamu seakan melihat kehancuran dalam berpegang teguh pada kejujuran, tapi yakinlah bahwa di dalam kejujuran itu terdapat keselamatan.” (Abu Dunya).
Ada tiga tingkatan kejujuran yaitu:
1. Jujur dalam perktaaan yaitu kesesuaian ucapan dengan realitas, sebagaimana dalam surat ash-Shaff : 2 dan al-Ahzab: 70.
2.  Jujur dalam perbuatan, yaitu kesesuaian antara ucapan dan perbuatan sehingga terhindar dari perbuatan munafiq.
3.   Jujur dalam niat, yaitu kejujuran tingkat tinggi di mana ucapan dan perbuatan semuanya hanya untuk mencapai ridha Allah SWT.
Tidak cukup hanya jujur dalam ucapan dan perbuatan bagi seorang mukmin, tapi harus jujur dalam niat sehingga semua ucapan, perbuatan, kebijakan, dan keputusannya harus didasarkan atas tujuan mencari keredhaan Allah SWT. Kejujuran yang mesugesti Khalifah Umar bin Khattab ra memiliki tanggung jawab luar biasa dalam memerintah daulah Islamiyah sehingga ia pernah berkata:
“Seandainya ada seekor keledai terperosok di Baghdad (padahal beliau berada di Madinah), pasti Umar akan ditanya kelak: “Mengapa tidak kau ratakan jalan untuknya?”
Saat ini bangsa kita rasanya tak henti-henti diterpa berbagai macam musibah, krisis dan kasus amoral oknum pejabat, sehingga membutuhkan sosok orang-orang jujur baik di eksekutif, legislatif dan yudikatif, apaakh itu dalam ucapan, perbuatan, maupun niatnya. Terpuruknya kondisi bangsa akhir-akhir ini karena banyaknya orang-orang yang tidak jujur sehingga prilakunya tidak sejalan dengan amanat reformasi dan cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945.
Allahu Akbar 3x wa lillahil Hamd,
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.
Bangsa ini umat Islam khususnya sangat mendambakan sosok pribadi-pribadi yang jujur, baik sebagai rakyat maupun pemimpin, seorang pegawai maupun direktur, eksekutif, legislatif dan yudikatif, para pedagang maupun pembeli, suami dan istri, ayah dan anak, keluarga, lingkungan dan dalam berbagai lini kehidupan lainnya. Bahwa dengan kejujuranlah, hidup suatu bangsa akan menjadi tenteram, nyaman dan sejahtera, bahkan akan kokoh dan tegak berdiri di kaki sendiri sehingga jauh dari tipu daya dan kecurangan, karena itulah Rasulullah SAW mengingatkan kita:
“Kamu sekalian wajib jujur karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa kepada surga.”
Seorang pemimpin dalam lini apapun sangat dibutuhkan sikap kejujuran dirinya, sehingga dengan demikian dapat memberikan keadilan, kenyamanan dan ketenteraman hidup bawahannya, kejujuran bukanlah sekedar ucapan pemanis lidah, atau hanya keluhan belaka, dengan mengatakan di hadapan orang banyak “sejujurnya saya katakan” namun ia merupakan praktek nyata yang kelihatan kebohongannya sehingga membuat bangsa ini semakin terpuruk. Sesungguhnya pejabat yang jujur, adalah dambaan rakyatnya, sehingga dengannya dapat memberikan kemaslahatan besar untuk rakyatnya, sekalipun kondisi dirundung masalah, saatnya kita harus berikan keterangan apa adanya, jangan disembunyikan atau jangan hanya tebar pesona. Demikian juga hakim yang jujur, adalah harapan semua pihak, sehingga dapat mengeluarkan putusan hukum yang adil, tidak memihak kepada  yang kuat atau punya uang dan ada mamfaatnya. Bahkan Rasulullah SAW mengatakan bahwa hakim ada tiga golongan, dua di antaranya penghuni neraka sebagai hakim menyembunyikan kebenaran dan satu di surga yaitu hakim jujur. Demikian juga sebagai rakyat tentu harus jujur, terutama dalam memilih seorang pemimpin masih banyak yang mudah dibuai oleh rayuan kata-kata dan harta yang sedikit (money politic), memilih pemimpin yang tidak mempunyai kepribadiannya adalah salah besar. Rusaknya tatanan sistem kenegaraan sebuah bangsa adalah tidak ada kejujuran dalam pengelolaannya, bahkan sampai hari ini banyak oknum pejabat yang masuk bui karena ketidak jujurannya, sangat ironis rasanya dulu pendiri republik ini keluar masuk penjara baru menjadi pemimpin, namun kini menjadi pemimpin dulu baru masuk penjara karena prilaku korupsinya na’zubillah minzalik.

Akhirnya marilah kita instropeksi dan mengaca diri, bahwa kita semua memerlukan pembenahan secara personal dan sosial, dan kita jadikan bulan Ramadhan  yang telah kita lalui sebagai titik awal perbaikan diri menuju keshalihan diri dan social masyarakat, membangun kehidupan yang baik menuju keshalihan sosial sehingga berbuah hasil “baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur” (suatu negeri  yang makmur, dan dibawah ampunan Allah SWT). Ramadhan merupakan refleksi mengasah ketajaman kepekaan jiwa sosial tinggi hingga menjadi seperti pisau yang tajam, sebilah pisau yang tajam akan mudah memotong dan menyanyit-nyanyit sesuatu. Andaikan kesholehan sosial telah tertanam akan mudah pula membedakan mana yang haq dan mana yang bathil, bahkan jika sudah tertanam qaidah perintah pun tidak selalu harus disampaikan dengan kalimat perintah (amr), cukup dengan bahasa isyarat saja sudah dapat dipahami kalau hal itu merupakan perintah yang harus dilaksanakan tanpa harus bertanya dan mengulang pertanyaan. Menjadi orang yang memiliki kepekaan sosial, momentum puasa merupakan salah satu caranya, karenanya pada waktu puasa, teguran orang lain kepada kita meskipun dengan bahasa isyarat sudah menyadarkan akan kesalahan yang kita perbuat, ini membuat kita dengan mudah bisa menangkap dan membedakan mana yang haq dan mana yang bathil, sesuatu yang selama ini semakin hilang dari pribadi masyarakat kita sehingga yang haq ditinggalkan dan yang bathil malah dikerjakan, sehingga Allah SWT mengingatkan persoalan ini dalam sebuah firman-Nya:
وَلاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُواْ بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُواْ فَرِيقاً مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ.
“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS Al-Baqarah:188).

Menjadi amat penting bagi kita untuk memperlakukan hati dengan sebaik-baiknya sehingga perbaikan (reformasi) diri, keluarga, masyarakat dan bangsa pasca Ramadhan berakhir dapat kita realisasikan. Pada akhirnya, marilah kita akhiri pelaksanaan ibadah shalat Id pagi ini dengan sama-sama berdoa kehadirat Allah SWT dengan menadahkan kedua tangan dan hati yang khusuk semoga doa kita diijabah-Nya:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. اَلْحَمْد ُلِلَّهِ رَبِّ اْلعَالمِيْنَ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ حَمْدًا يُوَافِىْ نِعَامَهُ وَيُكَافِىْ مَزِيْدَه يَارَبَّنَا لَكَ اْلحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِىْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. سُبْحَانَكَ لاَ نُحْصىْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ وَلَكَ اْلحَمْدُ حَتَّى تَرْضَى. اَللَّهُمَّ صَلِّ وسلم عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْن.
 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.
Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan doa.

اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.
Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang dzalim dan kafir.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ.
Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا.
Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.

اَللَّهُمَّ اِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمِ لاَ يَنْفَعُ  وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَسْبَعُ وَمِنْ دُعَاءِ لاَيُسْمَعُ.
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tak bermanfaat, dari hati yang tak khusyu dan jiwa yang tak pernah merasa puas serta dari doa yang tak didengar (Ahmad, Muslim, Nasa’I).

 رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka. 

Jumat, 19 Agustus 2011

KHUTBAH HARI RAYA IDUL FITRI 1432H - IDUL FITRI MOMENTUM MENUJU INDONESIA LEBIH BAIK

Khutbah Pertama
IDUL FITRI MOMENTUM MENUJU INDONESIA LEBIH BAIK
Oleh

Al Fitri Johar Chaniago
(Hakim Pratama Madya Pengadilan Agama Tanjungpandan)
"Disampaikan Dalam Pelaksanaan Shalat Ied di Lapangan Parkir Pasar Dekon Kotabumi" 

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد الله أكبر كبيرا و الحمد لله كثيرا و سبحان الله بكرة و أصيلا لآإله إلا الله و لا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون لآإله إلا الله وحده صدق وعده و نصر عبده و أعز جنده و هزم الأحزاب وحده لآإله إلا الله الله أكبر الله أكبر و لله الحمد.
الحمد لله الذي ألف بين قلوبنا فأصبحنا بنعمته إخوانا. الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى و دين الحق ليظهره على الدين كله ولو كره المشركون .أشهد أن لآإله إلا الله و أشهد أن محمدا رسول الله. اللهم صلي على محمد و على آله و أصحابه و أنصاره و جنوده و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. فقال الله تعالى في كتابه الكريم: أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
Hadirin wal hadirat kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia.
Di pagi hari ini, ketika sang surya mulai merangkak menyinari bumi, seiring gema takbir, tasbih dan tahmid pun membahana di seluruh penjuru negeri. Kita semua yang hadir disini datang menghadap Allah SWT dengan menundukkan kepala diharibaan-Nya, dan dengan hati khusyu mengagungkan kebesaran-Nya, mensucikan asma-Nya dan menggemakan pujian-pujian untuk-Nya, menyadari betapa kecilnya kita dihadapan-Nya, betapa butuhnya kita pada rahmat-Nya, dan betapa tidak berartinya kehidupan ini tanpa agama-Nya serta tanpa Rasul-Nya. Di pagi hari ini juga, dengan berat hati kita diinggalkan bulan suci Ramadhan, bulan dimana Allah SWT membagi rahmat-Nya, menurunkan maghfirah-Nya, dan membuka peluang selebar-lebarnya untuk membebaskan hamba-hamba-Nya dari siksa neraka serta menyediakan malam lailatul qodr, malam yang lebih baik dari seribu bulan (83,3 tahun). Bulan dimana Allah Ta’ala menurunkan Al Quran, menjadi petunjuk bagi segenap manusia, hingga akhir zaman, dalam mengarungi lautan kehidupan, sehingga dengan petunjuk itu manusia dapat mengapai pantai keselamatan dan agar dapat manusia membedakan antara yang hak dengan bathil. Firman Allah dalam QS. Al Baqarah ayat 185:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil.

Pagi hari ini sekali lagi dengan berat hati kita meninggalkan bulan Ramadhan. Semoga atsar (bekasnya) amalan ibadah yang kita lakukan dapat menghantar kita kembali kepada fitrah kita, fitrah yang menyemai taqwa dan iman dalam dada kita, fitrah yang menyingkap tabir kebenaran bagi mata hati kita, fitrah yang membuka rahasia kepalsuan dunia seperti fatamorgana, fitrah yang selamanya menyatukan kita dengan kehendak-kehendak Allah yang termaktub dalam kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya. Perjuangan berat yang kita lalui selama bulan Ramadhan untuk menaklukkan musuh melawan hawa nafsu, barangkali telah menciptakan suasana keimanan yang sejuk dalam hati dan bathin kita, suasana yang tercipta dari saat-saat taqarub ilallah melalui instrumen ibadah, dan saat-saat kejauhan dari hiruk pikuk kesenangan dunia. Hari ini kita semua hadir disini, mengalir bagaikan arus air bah menuju satu muara, yaitu muara fitrah dengan ungkapan “minanl ‘aidin wal faiizin”. Disini semua kegembiraan kita tumpah ruah menyambut hari kemenangan bagi yang melaksanakan shaum Ramadhan. Kegembiraan itu terlihat pada sorot sinar mata, pada senyum, pada pakaian, dan pada makanan kita. Hari ini kita semua bergembira dan bersuka cita, istri-istri kita membuat kue yang lezat, anak-anak kita mengenakan pakaian semuanya serba baru, sebaru jiwa kita yang baru saja melewati masa pembinaan selama satu bulan melalui traning centre Ramadhan.

 الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
Kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah.
Andaikan saja kita semua maulah  menghayati inti risalah ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dan menyadari persoalan bangsa yang pada saat ini sedang tidak henti-hentinya dirindung malang, mendapatkan berbagai ujian dari Allah SWT, serta memperhatikan bagaimana perjuangan Rasulullah dalam membangun masyarakat yang damai dan sejahtera baik di Makkatulmukaramah maupun di Madinatumunawarah melalui ajaran Islam, maka dalam suasana Idul Fitri ini tepat kiranya jika kita gunakan momentum untuk membangun Indonesia ke depan dalam rangka menuju negeri yang aman sentosa di bawah ampunan Allah SWT (baldatun thaibatun warabbun ghafur). Sehingga, puasa Ramadhan yang telah kita lalui dan Idul Fitri ini benar-benar berhasil dijadikan sebagai momentum untuk membangun gerakan kebangkitan bangsa menuju Indonesia yang adil, sejahtera dan bermatabat, paling tidak bahwa ibadah selama bulan Ramadhan sampai hari raya Idul Fitri ini melahirkan beberapa hal sehingga kita jadikan pedoman dalam hidup berbangsa dan bernegara baik bagi pemimpin maupun rakyat, di antaranya sebagai berikut: 

Pertama, Puasa dan Idul Fitri seyogyanya mampu menelurkan pola permikiran yang benar dan kesadaran yang tinggi terhadap persoalan bangsa yang esensial. Persoalan bangsa bukan hanya persoalan pemimpin sekaligus menjadi persoalan kita semua. Yang dihadapi sekarang ini sesungguhnya, bukanlah hanya sebatas menyangkut bidang ekonomi atau apalagi hanya sebatas ketimpangan ekonomi seperti kekurangan sembako, pengangguran, dan kemiskinan, melainkan lebih mendasar dan luas dari sebatas itu. Ada sementara persepsi yang mengatakan bahwa jika masyarakat sudah dapat memenuhi kebutuhan pokoknya, maka persoalan kehidupan telah selesai.  Memang membangun ekonomi adalah penting, akan tetapi pemenuhan ekonomi bukanlah segala-galanya. Bahkan ada yang berani menegaskan, masalah utama keterpurukan bangsa saat ini adalah masalah perekonomian, jika masalah ekonomi bisa ditanggulangi maka negara akan menjadi baik. Demikianlah, masalah ekonomi seakan-akan masalah yang paling inti dari kehidupan ini. Mungkin saja, para pencetus pemikiran tersebut terpengaruh dengan sebuah hadits yang beredar di masyarakat yaitu “Hampir-hampir kefakiran itu menjadi kekufuran”.

كادالفقر أن يكون كفرا.

Sesungguhnya bangsa yang besar dan berperadaban tinggi selalu dibangun atas dasar keyakinan (iman dan taqwa yang kukuh), jiwa atau spritualitas yang dalam, ilmu pengetahuan yang luas, serta akhlaqulkarimah. Keadaan ekonomi yang kurang baik, di tengah-tengah negeri yang subur dan makmur sesungguhnya merupakan akibat dari lemah dan rendahnya iman, ketaqwaan, dan spritualitas, serta juga dipicu keterbatasan ilmu pengetahuan dan akhlaq yang disandangnya. Betapa pentingnya aspek-aspek ini untuk membangun peradaban ummat manusia, maka wajarlah ayat-ayat Al Qur’an pada fase awal yang diterimakan kepada Rasulullah stresingnya adalah menyangkut ilmu pengetahuan (yakni dalam bentuk perintah membaca), larangan berbuat angkara murka dan sebaliknya beliau diperintah untuk membangun akhlaq yang mulia.  Bukankah Allah SWT menyatakan kepada penduduk suatu negeri untuk meletakan dasar-dasar iman dan taqwa untuk mencapai keberkahan hidup dan kesengsaraan bagi yang mengingkarinya, sebagaimana dalam QS. Al ‘Araf ayat 7: 

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk suautu negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
Sidang Jamaah Ied yang terhormat.
Kedua, Puasa dan Idul Fitri sudah seharusnyalah membangkitkan rasa optimisme yang kuat akan kehidupan hari esok yang lebih baik. Akhir-akhir ini, sempat terhembus munculnya dari kalangan luas rasa pesimisme yang berkelebihan terhadap keadaan negeri ini. Barangkat dari pesimisme itu, bangsa ini dilabeli dengan identitas yang sedemikian rendah, seperti disebutnya sebagai bangsa yang terpuruk, bangsa terkorup, bangsa yang carut marut, bangsa yang berada pada titik nadir dan istilah-istilah lain yang kurang menguntungkan bahkan itu tak lebih hanya menampar air di dulang. Istilah-istilah seperti itu bisa jadi akan melahirkan mental bangsa yang inferior, tidak percaya diri, putus asa dan selalu berharap pada uluran pertolongan dan belai kasihan dari bangsa lain.  Oleh karena itu merendahkan identitas bangsa dengan istilah-istilah seperti itu sesungguhnya tidak menguntungkan, apalagi jika hal itu dikaitkan dengan upaya menumbuh kembangkan kebanggaan anak bangsa yang bermatabat ke depan. Bangsa Indonesia sesungguhnya tidak semalang dan separah itu. Kalaupun ada hanya sekedar permainan spekulan dan koruptor dari segelintir elit yang tidak bermoral saja, namun yakinlah dengan penegakkan supremasi hukum dan penghargaan kesejahteraan terhadap aparatnya, bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar bahkan berpotensi menjadi kekuatan baru dunia Islam “Allahu Akbar.” Kita harus memilik rasa optimisme yang tinggi selaku elemen bangsa yang mempunyai visi jauh kedepan untuk menyongsong har esok  yang lebih baik sebagaimana firman Allah dalam QS. Al Hashr ayat 22:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ .

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang beruntung, memiliki sumber daya alam yang terdiri dari beribu-ribu pulau besar dan kecil, tanahnya subur, samudera, teluk dan lautan yang terbentang luas, beraneka tambang, dan hasil hutan yang rindang, pertanian yang subur serta sumber daya manusianya yang berjumlah besar. Semua itu adalah karunia Allah SWT, yang seharusnya selalu disyukuri dan dijadikan modal untuk membangun kemakmuran bersama. Puasa dan Idul Fitri harus mampu menumbuh-kembangkan sikap optimisme itu. Kita tidak boleh putusa aja karena putus asa itu bukan watak dan sifatnya seorang yang beriman, dan yakinlah segala sesuatu yang bathil itu akan lenyap dengan sendirinya bila kebenaran itu telah datang. 

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
Saudara-saudara yang terhormat.
Ketiga, Puasa dan Idul Fitri moment yang tepat untuk menjadikan Indonesia bangkit, harus mampu melahirkan sikap solidaritas sosial yang tinggi sesama hamba Allah, kemauan berjihad dan berkorban sekuat tenaga. Membangun bangsa tidak akan berhasil jika tidak terdapat orang-orang yang rela berjuang dan berkorban untuk kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan. Sejarah telah membuktikan secara jelas tentang hal itu. Indonesia berhasil meraih kemerdekaan dari penjajah bangsa barat alias kaum kuffar, adalah sebagai buah dari adanya kesediaan para pejuang yang ikhlas mengorbankan apa saja yang ada padanya yang kadangkala mereka sendiri tidak sempat menikmati yang namanya kemerdekaan itu. Demikian pula halnya, baginda Rasulullah Muhammad SAW tidak akan mampu mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat Madani yang damai dan berperadaban tinggi jika tidak ditempuh melalui perjuangan dan pengorbanan yang berat.  Sewajarnya puasa yang kita jalani melahirkan pribadi-pribadi yang relah berkorban untuk kepentingan bangsa bukan sebaliknya justru kita mengorbankan bangsa ini untuk kepentingan dan memperkaya golongan. Sudah sewajarnya kita memberi bukan menjarah uang rakyat. Berkorban dan cinta tanah air, bukan mengorbankan atau mengadaikan  bangsa atas nama rakyat, bukankah rasa rela berkorban dan cinta tanah air bagian dari keimanan, sebagaimana pernyataan Nabi SAW:

حب الوطان من الإيمان.
Cinta tanah air  merupakan bagian dari iman.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
Saudara-saudara yang terhormat.
Keempat, Puasa dan Idul Fitri, selayaknya melahirkan sifat-sifat profektif, seperti shiddiq, amanah, tabligh dan fathanah. Sifat-sifat itu sangat diperlukan untuk membangun masyarakat yang lebih adil dan maju. Lebih daripada itu, puasa dan Idul Fitri seharusnya berhasil melahirkan suasana batin yang pandai bersyukur, ikhlas, tawakkal dan istiqamah.  Sifat inilah yang dipertontonkan oleh Rasulullah ketika memimpin ummatnya sehingga beliau disegani oleh siapa saja dalam waktu 23 tahun beliau berhasil membimbing umat manusia ke jalan yang benar. Jika puasa yang dikerjakan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga maka puasa itu tidak ada nilainya di sisi Allah. Itu sebabnya Rasulullah saw. bersabda: 

كم من صائم ليس له من صيامه إلا الجوع والعطشَ .

Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga” (HR Ahmad).

Hadirin hadis ini memberikan gambaran kepada kita untuk senantiasa waspada dengan apa yang akan kita perbuat. Sebab, puasa tidak hanya diwajibkan untuk menahan dari makan dan minum, tetapi juga menahan mata dari memandang yang dilarang, menahan telinga dari mendengar yang buruk, dan menahan mulut dari bicara kotor dan adu domba, mengumpat, dan menggunjing. Pun menjaga tangan dari berbuat maksiat, menjaga kaki dari melangkah ke tempat yang dilarang serta menjaga fikiran dari sifat negatif yang akan merugikan diri sendiri, orang lain dan bangsa. Oleh karena itu kita sangat merindukan sosok pemimpin (imamah) yang menjamin mampu mensejahterakan rakyat dan aparatnya yang dilandasi dengan sifat-sifat Rasulullah tersebut, dari sifat Rasul ini tak satupun ketika beliau menerima ayat dari Allah SWT yang disampaikannya sebuah kepalsuan tapi hanya semata-mata wahyu yang diwahyukan, beliau dapat dipercaya (amanah) karena sesungguhnya yang disampaikannya bukan doktrin yang beliau rekayasa untuk hanya sekedar mencri populeritas namun semata-mata titipan Allah melalui malaikat Jibril as, atau tidak satupun titipan yang disampaikan Jibril as kepada beliau yang dikorupsinya untuk kepentingan isteri, anak dan golongan suku Quraisy tetapi 6666 ayat yang beliau diterima utuh disampaikan tidak kurang satu ayatpun, dan beliau seorang pemimpin yang cerdas dalam menyikapi situasi dan kondisi masanya sehingga ayat yang disampaikan relevan dengan zaman dan keadaanya. Bayangkan kalau sifat ini ditiru atau diwarisakan oleh pemimpin kita yang lahir dari filosofi puasa, kita yakin korupsi tidak akan merajalela atau setidak-tidaknya bisa diminimalisir, hukum tidak akan dipermainkan dan subsidi untuk simiskin tidak akan diselewengkan.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
Jamaah Idul Fitri yang dirahmati Allah.
Kelima, hal yang sangat penting lainnya adalah melalui puasa dan Idul Fitri ini mampu melahirkan pandangan tentang betapa pentingnya posisi pendidikan dan disiplin dalam membangun bangsa ke depan. Banyak nilai yang dapat dipetik dari ibadah puasa ini, sebagai upaya pendidikan karakter bangsa berbasis Tarbiyah Islamiyah. Pendidik puasa pertama, adalah  mendidik jiwa ikhlas. Ikhlas berarti beramal semata-mata karena mengharap ridlo Allah SWT. Puasa merupakan ibadah yang tidak dapat dipertontonkan pada orang lain. Kelelahan fisik, kelesuan, mata cekung, bibir yang kering bukan menunjukkan puasa saja. Puasa hanya dapat dijalankan dengan ikhlas. Karena itu, orang melakukannya tidaklah karena tendensi manusia, tidak karena mendambakan kekayaan, tidak pula ditujukan untuk mempertahankan kedudukan. Dalam puasa orang dididik bahwa keridloan Allah lebih besar daripada dunia dengan segala isinya. Waridlwanun MinaLLahi Akbar QS At Taubah ayat 72: 

وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ .

Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.

Kedua, pembersihan diri. Dalam menjalankan ibadah puasa seorang muslim dididik untuk menghindarkan diri dari segala perbuatan tercela. Ia mengendalikan lidahnya supaya tidak mengeluarkan kata-kata keji dan menyinggung orang lain. Bahkan, jika dia dicemoohkan sekali pun, Nabi menyuruh kita untuk berkata Inni shooimuni  (saya sedang berpuasa). Ia mengendalikan telinganya, pandangannya, seluruh anggota badannya, bahkan getaran hatinya.
Selanjutnya, berbicara tentang pendidikan, tidak lepas dari eksistensi strategis wanita. Sebuah riwayat dikisahkan sebuah bangsa akan menjadi baik jika para wanitanya mampu memposisikan diri secara benar dan tepat, yakni sebagai pendidik bangsa bahkan tak sedikit yang menentukan kebijakan dalam pengelolaan bangsa. Dikatakan: “Seorang ibu adalah laksana sebuah sekolah, jika engkau mempersiapkannya dengan baik, berarti engkau mempersiapkan suatu bangsa yang tangguh dan kukuh”. Jika cara pandang dari nilai-nilai puasa dan Idul Fitri berhasil ditumbuh-kembangkan, setidak-tidaknya oleh kita yang baru menjalankan ibadah ini, maka akan berdampak pada kehidupan masyarakat secara luas. Selanjutnya, gerakan uswah hasanah sebagai pendekatan strategis  yang telah dipilih oleh Rasulullah, seharusnya dapat dikembangkan untuk membangun bangsa ini. Ini semua dapat dilakukan, jika jiwa besar dan ruh kebersamaan dalam berbangsa dan bernegara berhasil ditumbuhkan dan diperkukuh. Dengan dengan nilai pendidikan kita membuat planing kedepan agar kebodohan segera diatasi dengan memberi kesempatan kepada setiap orang mengeyam pendidikan, sehingga kedepan kita merencakan kehidupan yang lebih baik dari hari kemarin, hanya orang-orang yang berilmulah yang diangkat derajat disisi Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al Mujadalah ayat 11 :

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ .

Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
Bapak Ibu yang mulia.
Keenam, Puasa dan Idul Fitri moment yang tepat dalam rangka rekonsiliasi antara sesama ummat Islam baik antara orangtua dengan anak, sesama tetangga, karib kerabat dan sesama pemimpin bangsa. Bukankah diawal puasa kita selalu saling memaafkan secara langsung, media cetak dan elektronik, bener atau spanduk dan sebagainya.. Demikian juga saat datang Idul Fitri kita pertegas kembali, tanpa menyebut salah dan kesalahan apa yang kita perbuat. Momen ini harus dipergunakan agar tidak ada dendam, kebencian dan kemurkaan setelah ini, apapun faham yang kita pedomani dalam beribadah, perjuangan dalam organisasi, bendera partai, dan suku bangsa kita tetap satu sebagai ummat Muhammad SAW, yang terikat dengan Ukhwah Islamiyah, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al Hujarat ayat 10:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ .

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara, sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
Jika saling memaafkan telah terpatri, maka saatnya telah kembali kepada kefitrahan sesungguhnya, dan sangatlah pantas kita mendapatkan ungkapan:

من العائد والفائز كل عام وانتم بخير.

Demikian khutbah ini disampaikan semoga bermamfaat bagi kita, amien ya Robalalamin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ. وَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Catatan: Jika  tidak pakai khutbah kedua langsung dengan doa.

Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ اِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ, حَمْدًايُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَا فِى مَزِيْدَهُ, يَا رَبَّنَا لَكَ اْلحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِى لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛  َا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ.اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ. رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ.رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَصْلِحْ وُلاَةَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ وَوَفِّقْهُمْ لِلْعَمَلِ بِمَا فِيْهِ صَلاَحُ اْلإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِيْنَ.اَللَّهُمَ لاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لاَ يَخَافُكَ فِيْنَا وَلاَ يَرْحَمُنَا.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.عِبادَاللهِ اِناللهَ يَأمُرُ بِاالعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَاِيْتَاءِذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ.
Doa yang pakai jika tidak pakai khutbah kedua
اَلْحَمْدُ اِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ, حَمْدًايُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَا فِى مَزِيْدَهُ, يَا رَبَّنَا لَكَ اْلحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِى لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. .اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.

اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.

Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang dzalim dan kafir.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ

Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا.

Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini.

اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيم ٌ

Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.


سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.