Sabtu, 14 Juli 2012

Awal Ramadhan 1433 H / 2012 M Berpotensi Berbeda

Awal Ramadhan 1433 H / 2012 M Berpotensi Berbeda

Jatuhnya awal Ramadahan berpotensi berbeda setelah Muhammadiyah melalui situsnya menyatakan bahwa awal Ramadhan jatuh pada Jumat, 20 Juli 2012, dan Idul Fitri pada Minggu, 19 Agustus 2012. Hal ini menandakan bahwa awal shalat Tarawih menjelang puasa akan jatuh pada tanggal 19 Juli 2012. Penetapan tersebut didasarkan pada metode hisab rukyah. Sementara Ormas lainnya Nahdatul Ulama (NU) yang menggunakan metode rukyatul hilal diperkirakan akan menetapkan jatuhnya Ramadhan pada tanggal 21 Juli 2012, sementara hari raya Idul Fitri jatuh pada tanggal 20 Agustus 2012. Dilain pihak, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akan memberikan data Informasi Hilal saat matahari terbenam pada Kamis, 19 Juli 2012.
Penentuan awal bulan Ramadhan 1433 H akan menggunakan beberapa metode pengamatan, antara lain waktu konjungsi (Ijtima’) dan terbenam matahari. BMKG akan memantau konjungsi geosentrik atau ijtima. Peristiwa ini terjadi ketika lintasan edar matahari dan bulan tepat sama. Kejadian ini akan terjadi pada hari Kamis, 19 Juli 2012, pukul 04.24 UT atau pukul 11.24 WIB atau pukul 12.24 WITA atau pukul 13.24 WIT. Saat itu matahari dan bulan bersama berada tepat pada 116,912 derajat dengan jarak sudut 4,082 derajat.
Selain waktu konjungsi, matahari terbenam juga bisa menjadi penentu. Waktu matahari terbenam dinyatakan ketika bagian atas piringan matahari tepat di titik horizon. Berdasarkan pengamatan, matahari terbenam di wilayah Indonesia pada 19 Juli 2012 paling awal terjadi pada pukul 17.35 WIT di Merauke dan paling akhir pada pukul 18.57 WIB di Sabang.(Sumber: http://bantenesia.com).

Prediksi Awal Bulan Ramadhan 1433 Hijriyah
Kamis 19 Juli 2012 sore merupakan saat pelaksanaan rukyatul hilal untuk menentukan awal bulan Ramadhan 1433 Hijriyah. Hal ini berdasarkan pada Taqwim Standard Indonesian hasil rukyat pada bulan sebelumnya yang menyimpulkan sama. Hari itu dari Pos Observasi Bulan Bukit Bela-belu Parangkusumo, Matahari terbenam pada pukul 17:36 WIB pada azimuth 290°48' atau 20,8° di Utara titik Barat. Tinggi Hilal saat Matahari terbenam 1°40' atau 1,7° di atas ufuk mar'i di kiri-atas Matahari. Bulan terbenam pada 17:45 WIB pada azimuth 286°6'. Pada kondisi seperti ini secara astronomis Hilal mustahil dirukyat baik menggunakan mata telanjang maupun teleskop. Namun demikian kegiatan rukyat tetap dilaksanakan sesuai perintah rukyat yang harus dilakukan pada setiap tanggal 29 bulan berjalan serta pembuktian di lapangan ketidak nampakan hilal.
RHI Yogyakarta akan melakukan rukyatul hilal secara resmi bersama Tim BHR DIY di POB Bela-belu Parangkusumo Yogyakarta pada Kamis, 19 Juli 2012 di POB Bela-belu Parangkusumo, Bantul Yogyakarta. pada hari berikutnya Jumat, 20 Juni 2012 di tempat yang sama juga akan dilakukan rukyatul hilal untuk membangun data visibilitas hilal.  Seperti halnya tahun lalu, tahun ini juga RHI Yogyakarta menjadi salah satu Tim rukyat nasional dari 16 lokasi Rukyat Nasional di Indonesia kerjamasama antara BHR Kemenag DIY, Telkom DIY, Kominfo dan Bosscha. Tahun ini menyusul RHI Solo dan RHI Kudus juga menyusul menjadi salah satu anggota Tim. Hasil Streaming online Hilal 2012 ini dapat dilihat di website berikut :  
  
KETERANGAN :
1.  Sangat tidak mungkin daerah yang berada di bawah arsiran MERAH (E) dapat menyaksikan Hilal, sebab pada saat itu Bulan  terbenam lebih dulu sebelum Matahari terbenam atau ijtimak lokal (topocentric conjunction) terjadi setelah Matahari terbenam.
2.    Daerah yang berada pada area BIRU TUA (D) (tak berarsiran) juga  tidak memiliki peluang menyaksikan hilal sekalipun menggunakan alat bantu optik (binokuler/teropong), sebab kedudukan Hilal masih sangat rendah ( <6° ) dan terang cakram Bulan masih terlalu kecil sehingga cahaya Hilal tidak mungkin teramati.
3.    Hilal baru mungkin dapat teramati menggunakan alat bantu optik pada area di bawah arsiran BIRU MUDA (C). Pada area ini pun masih sangat sulit karena dibutuhkan kondisi langit yang sangat cerah terutama di langit Barat.
4.Wilayah yang berada dalam arsiran UNGU (B) hanya dapat menyaksikan hilal menggunakan alat bantu optik sedangkan untuk melihat langsung dengan mata diperlukan kondisi cuaca yang sangat cerah dan ketelitian pengamatan.
5. Hilal dengan mudah dapat disaksikan pada area di bawah arsiran HIJAU (A) baik menggunakan mata telanjang apalagi menggunakan peralatan optik dengan syarat kondisi udara dan cuaca cukup baik.
6.  Peta ini dibuat dan hanya berlaku untuk daerah 60° Lintang Utara sampai 60° Lintang Selatan.

Ramadhan Sebagai Meomentum Berbenah Diri

Ramadhan Sebagai Meomentum Berbenah Diri
Tinggal beberapa hari lagi seluruh umat Islam akan menjalan ibadah puasa Ramadhan yaitu pada tanggal 20 Juli 2012 dan ada juga tanggal 21 Juli 2012. Puasa di bulan Ramadhan memang ibadah yang paling banyak ditunggu-tunggu umat Islam. Karena itu, dalam beberapa hari kedepan, untaian kalimat Marhaban ya Ramadhan, selamat datang bulan suci Ramadhan patut kita kumandangkan. Yang urgensi sekali bahwa marhaban ya Ramadhan sepatutnya bukan sekadar ucapan selamat datang yang terlontar dari mulut belaka. Bukan pula dengan berprilaku konsumtif, mengikuti ajakan iklan di tayangan televisi. Marhaban ya Ramadhan, seyogianya bermakna dengan berbenah diri. Perbuatan-perbuatan tercela, tidak terpuji, kebohongan, kemalasan dan perbuatan-perbuatan negatif yang mungkin kita telah lakukan sebelumnya harus segera ditinggalkan.
Seharusnya menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih dan jernih, sehingga harus ada maaf untukmu dan untuku tanpa harus menyebutkan kesalahan apa yang pernah diperbuat. Ramadhan adalah bulan penyemangat, bulan yang mengisi kembali baterai jiwa setiap muslim. Ramadhan sebagai “Shahrul Ibadah” harus kita maknai dengan semangat pengamalan ibadah yang sempurna. Ramadhan sebagai “Shahrul Fath” (bulan kemenangan) harus kita maknai dengan memenangkan kebaikan atas segala keburukan. Ramadhan sebagai "Shahrul Huda" (bulan petunjuk) harus kita implementasikan dengan semangat mengajak kepada jalan yang benar (shirotol mudtaqiim), kepada ajaran Al-Qur'an dan ajaran Nabi Muhammad Saw.
Bahkan Ramadhan juga sebagai "Shahrus-Salam" harus kita maknai dengan mempromosikan perdamaian dan keteduhan. Ramadhan sebagai “Shahrul-Jihad” (bulan perjuangan) harus kita realisasikan dengan perjuangan menentang kedzaliman dan ketidakadilan di muka bumi ini termasuk memberantas mafia hukum. Ramadhan sebagai “Shahrul Maghfirah” harus kita hiasi dengan meminta dan memberiakan ampunan. Ramadhan juga sebagai “Shahrul Sabr”  bulan kesabaran, maka kita harus melatih untuk sabar dalam menjalani hidup.
Semoga dengan mempersiapkan diri kita secara baik dan merencanakan aktivitas dan ibadah-ibadah dengan ikhlas, serta berniat “liwajhillah wa limardlatillah”, karena Allah swt dan karena mencari ridha Allah swt, kita mendapatkan kedua kebahagiaan tersebut, yaitu "sa'adatud-daarain" kebahagiaan dunia dan akherat. Semoga kita bisa mengisi  Ramadhan tidak hanya dengan kuantitas harinya, namun lebih dari pada itu kita juga memperhatikan kualitas puasa kita. “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1433.H.”



Jumat, 13 Juli 2012

Persiapan Menyambut Kunjungan Bulan Ramadhan


Persiapan Menyambut Kunjungan Bulan Ramadhan


Muqadimah.
Tanpa dinyana bahwa Bulan Ramadhan (selanjutnya disebut: Ramadhan) sebentar lagi akan menghampiri ummat Islam seluruh dunia, sebagai upaya untuk meningkatkan kwalitas dan kwantitas setiap nilai amalan yang dilakukan. Memperlebar kesempatan bagi setiap orang untuk berbuat baik dan beramal sholeh. Di dalamnya penuh dengan kebajikan, kebaikan dan keutamaan (fadhilah). Sudah sewajarnyalah ummat Islam mempersiapkan diri menuju bulan penuh berkah itu dengan persiapan yang matang dan terplanning. Adakah persiapan khusus yang telah akan dilakukan? Atau hanya sibuk dengan dengan berbagai pernak-pernik penyambutan Ramadhan yang bersifat lahiriyah semata, sibuk menyusun berbagai menu hidangan santapan sahur dan berbuka kelak, atau menyusun acara-acara untuk berbuka bersama dengan saudara, teman, sahabat atau kolega, serta sibuk membeli perlengkapan ibadah yang serba baru untuk menambah semangat seperti membeli Al Qur’an, sarung, peci, baju koko, mukena dan sajadah.
Memang tidak ada yang salah sama sekali dengan persiapan-persiapan semacam itu, dan mungkin dengan niat untuk menambah semangat ibadah serta mempererat jalinan silaturrahim, insa Allah niat tersebut akan menjadi pahala kebaikan. Namun bukankah ada hal-hal yang lebih baik dan utama untuk dipersiapkan, yaitu persiapan bathiniyah yang erat hubungannya dengan keimanan dan ketaqwaan. Maka sudah sepatutnya melakukan berbagai persiapan dalam rangka tarhib Ramadhan (menyambut Ramadhan). Ibarat sosok tamu yang agung, kedatangannya mesti disambut dengan perasaan gembira dan suka cita oleh umat Islam. Setelah sekian lama berpisah dengannya, maka tamu yang agung ini kembali ditunggu-tunggu dan dielu-elukan kedatangannya dengan penuh kegembiraan dan kerinduan yang sangat mendalam.
Ibarat kedatangan seorang tokoh atau tamu penting di negeri ini seperti halnya kedatangan seorang presiden, raja, perdana menteri, menteri, gubernur, bupati dan sebagainya, maka berbagai persiapan pun akan dilakukan dalam rangka menyambut kedatangannya. Tentunya dengan protokuler sampai dengan menghiasi dan membersihkan tempat yang akan dilewati dan dikunjungi oleh pejabat dan tokoh penting tersebut sehingga penyambutannya dilakukan dengan antusias dan kegembiraan. Maka hal sepatutnya juga dengan kedatangan Ramadhan disambut lebih meriah dan gembira oleh umat Islam itu sendiri dibandingkan dengan kedatangan tokoh atau pejabat tersebut. Ramadhan merupakan sosok tamu agung dan mulia yang selalu dielu-elu kedatangannya dan dirindukan perjumpaan dengannya.
Hal ini sangatlah wajar sekali, mengingat tamu yang mulia ini yang namanya Ramadhan datang dengan membawa berbagai keutamaan (fadhilah), baik di dunia maupun di akhirat kelak. Ramadhan dikatakan dan merupakan bulan rahmat, maghfirah dan pembebasan hamba dari api neraka (itikun minan niran). Selain itu ternyata Ramadhan juga merupakan bulan keberkahan, karena pada bulan ini pahala suatu amal shalih dan ibadah dilipatgandakan nilainya oleh Allah swt. Demikian pula dengan keberkahan di dunia dengan bertambahnya rezki seseorang pada bulan ini, terutama bagi para pelaku usaha di bidang perdagangan kelontong, kue, pakaian muslim, dan lain sebagainya. Begitu agung dan mulianya bulan ini sehingga  pantas nabi menjulukinya sebagai sayyid asy-syuhur (penghulu segala bulan). Maka sudah sewajarnya kedatangan tamu yang mulia ini disambut oleh umat Islam dengan penuh kegembiraan dan persiapan yang meriah. Bila tidak tentu ke-Islaman dan keimanan seorang yang mengaku dirinya muslim perlu dipertanyakan dan discan kembali, bahkan bila perlu diformat ulang agar bersih dari virus. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw mengatakan bahwa:
لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا فِي رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِي أَنْ يَكُوْنَ السَّنَة كُلّهَا
“Seandainya hamba-hamba mengetahui apa yang ada dalam apa yang ada pada bulan Ramadhan, niscaya umatku berangan-angan agar Ramadhan terus berlangsung sepanjang tahun.”
Persiapan Menjelang Datangnya Ramadhan.
Persiapan demi persiapan untuk tarhib Ramadhan sangat penting dan perlu dilakukan, dengan tujuan agar suasana Ramadhan menjadi sukses. Sebagaimana halnya ketika akan menghadapi suatu ujian (testing) atau pertandingan (tournament), maka tentu terlebih dahulu mempersiapkan diri, agar berhasil dalam ujian atau mencapai kemenangan dalam pertandingan. Namun yang menjadi pertanyaan terpenting adalah bagaimana cara mempersiapkan diri untuk menyambut Ramadhan agar menjadi sukses? Nah di antara persiapan tarhib Ramadhan yang penting dan perlu dilakukan oleh ummat Islam adalah:
Pertama, biasakan diri dengan memperbanyak ibadah puasa sunnat pada bulan Sya’ban. Bukankah memperbanyak puasa pada Sya’ban merupakan sunnah yang sangat dianjurkan oleh nabi. Dalam sebuah riwayat, dari Aisyah ra ia berkata:
 “Aku belum pernah melihat Rasulullah saw menyempurnakan puasa sebulan penuh melainkan pada bulan  Ramadhan, dan aku belum pernah melihat Rasulullah saw paling banyak berpuasa dalam sebulan melainkan pada bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Bahkan dalam riwayat lain, dari Usamah bin Zaid ra ia berkata, aku bertanya kepada Rasul:
 “Wahai Rasulullah, aku belumRasululla pernah melihatmu berpuasa pada bulan-bulan lain yang sesering pada bulan Sya’ban”. Beliau bersabda, “Itu adalah bulan yang diabaikan oleh orang-orang, yaitu antara bulan Rajab dengan Ramadhan. Padahal pada bulan itu amal-amal diangkat dan dihadapkan kepada Rabb semesta alam, maka aku ingin amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa.” (HR. Nasa’i dan Abu Daud serta dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah).
Mengenai pengkhususan puasa dan shalat sunat seperti shalat tasbih pada malam nisfu sya’ban (pertengahan Sya’ban) dengan menyangka bahwa ia memiliki keutamaan, maka tidak ada dalil shahih yang mensyariatkannya sehingga para ulama ada yang berpendapat bid’ah dan juga berpendapat bid’ah hasanah. Hadits-hadits yang dijadilan sandaran sebagai keutamaan puasa dan shalat malam nisfu sya’ban itu dhaif dan maudhu’ menurut para ulama hadits. Al-Mubarakfury dalam kitabnya Tuhfah al-Ahwadzi (3/444) menyebutkan hadits nisfu sya’ban dhaif. Ibnu Al-Jauzi menvonis tersebut maudhu’ dengan memasukkan dalam kitabnya Al-Maudhu’at. Oleh karena itu, hadits-hadits tersebut tidak bisa dijadikan hujjah dan tidak boleh diamalkan berdasarkan ijma’ para ulama.
Kedua, mempersiapkan bekal ilmu yang memadai dalam rangka menjalani ritual ibadah di Ramadhan, hal ini sangat penting dilakukan, mengingat ibadah di Ramadhan adalah syarat dengan keutamanan-keutamaan yang tinggi apabila menjalaninya sesuai dengan apa yang Allah swt perintahkan. Bahkan sebelum Ramadhan datag saatnya kembali untuk membuka dan mempelajari bab fiqh ash-shiyam (fikih puasa). Seorang muslim wajib mempelajari ibadah sehari-harinya (ibadah praktis), termasuk mempelajari fikih ash-shiyam, karena sebentar lagi akan menjalankan kewajiban ibadah puasa. Endingnya tentu dalam rangka memahami bagaimana tata cara puasa yang benar yaitu sesuai dengan petunjuk dan yang diajarkan oleh nabi. Dengan mempelajari fikih puasa tentu akan dapat mengetahui yang ada relevansinya dengan hukum puasa seperti rukun puasa, sunat, makruh dan adab puasa, serta yang membatalkan puasa dan sebagainya. Sewajarnyalah menjelang kedatangan Ramadhan, memperbanyak membaca buku-buku tentang puasa Ramadhan dan ibadah lainnya yang berkaitan dengan Ramadhan itu sendiri seperti shalat tarawih, i’tikaf dan taddarus Qur’an. Persiapan ilmu ini wajib dilakukan untuk memasuki Ramadhan. Bukankah dengan bekal ilmu, ibadah dapat dilakukan dengan cara yang benar dan diterima Allah saw sebagaimana Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan kepadanya, maka Allah mudahkan pendalaman dalam menuntut ilmu agamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ketiga, memberitakan khabar kegembiraan dengan masuknya Ramadhan kepada seluruh ummat Islam. Hal ini sesuai dengan sabda nabi saw beliau selalu memberi taushiah menjelang kedatangan Ramadhan dengan memberi kabar gembira kepada para shahabatnya. Dalam sebuat  riwayat dari Abu Hurairah ra beliau mengatakan bahwa menjelang kedatangan Ramadhan, Rasulullah saw juga bersabda:
يا أيها الناس انه قد أظلكم شهر عظيم شهر مبارك فيه ليلة خير من ألف شهر فرض الله صيامه وجعل قيام ليله تطوعا فمن تطوع فيه بخصلة من الخير كان كمن أدّى فريضة فما سواه … وهو شهر أوله رحمة وأوسطه مغفرة وآخره عتق من النار
“Wahai sekalian manusia, sungguh hampir datang kepada kalian bulan yang agung dan penuh barakah, di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, Allah wajibkan untuk berpuasa pada bulan ini, dan Allah jadikan shalat pada malam harinya sebagai amalan yang sunnah, barangsiapa yang dengan rela melakukan kebajikan pada bulan itu, maka dia seperti menunaikan kewajiban pada selain bulan tersebut …, dan dia merupakan bulan yang awalnya adalah kasih sayang, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.”
Dalam hadits yang lain beliau pun pernah bersabda:
“Barang siapa yang merasa gembira dengan masuknya Ramadhan, Allah haramkan jasadnya masuk api neraka.”
Masih banyak ketentuan informasi hadits-hadits yang menjelaskan tentang keutamaan Ramadhan, hal ini dilakukan oleh Rasulullah saw untuk memberi motivasi dan spirit kepada ummat Islam dalam beribadah di bulan suci Ramadhan.
Keempat, menjaga badan jasmani agar kesehatan dan stamina fisik tetap terjaga, tujuannya agar tetap sehat dan fit dalam suasana Ramadhan sangatlah penting. Mengingat kesehatan merupakan modal utama dalam melaksanakan rutinitas sehari-hari termasuk untuk beribadah. Bukankah orang yang sehat dapat melakukan ibadah dengan baik dan penuh semangat serta khusyu’. Namun sebaliknya bila seseorang sakit bahkan sakit-sakitan, maka pelaksanaan ibadahnya sangat terganggu dan tidak semangat bahkan bisa dia tinggalkan. Oleh karenanya Rasulullah saw bersabda:
 “Pergunakanlah kesempatan yang lima sebelum datang yang lima; masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim).
Tidak kata lain kecuali menjelang datangnya Ramadhan, agar kesehatan dan stamina fisik harus tetap dijaga, harus menjalani pola hidup sehat, makan teratur, menu dan pola makan adanya gizi seimbang, bahkan yang paling terpenting juga istirahat harus cukup. Perlu diketahui Ramadhan adalah suatu bulan yang di dalamnya penuh dengan ujian-ujian serta tantangan-tantangan yang dihadirkan oleh Allah swt kepada setiap muslim sejati agar mendapatkan penaikan kualitas keimanan ketingkat derajat taqwa.
Sebagai suatu instrumen dimana Allah swt telah mempersiapkannya untuk hamba-Nya dalam rangka menempuh ujian peningkatan derajat keimanan, maka Ramadhan menuntut ummat Islam secara proporsional dan logis agar menguatkan setiap elemen internal yang dia miliki. Terutama aspek fisik tadi yang menjadi alat utama dalam menjalankan ibadah puasa di siang hari dan shalat tarawih di malam hari. Ibadah ini memerlukan fisik yang cukup kuat untuk dilakukan secara kontinue. Oleh karenanya persiapkan fisik dalam menempuh ujian-ujian secara komprehensif agar derajat keimanan yang tinggi bisa diraihi di akhir Ramadhan.
Kelima, yang terpenting juga dalam suasana penyambutan Ramadhan adalah membersihkan rumah dan lingkungan hidup. Islam memerintahkan pemeluknya untuk selalu hidup bersih dan sehat karena kebersihan merupakan bagian dari iman. Hal mana bisa dibuktikan dengan perintah membersihkan diri dan tempat ibadah, terutama ketika mau melaksnakan shalat atau melakukan ibadah lainnya. Untuk itu tidak ada kata lain kecuali hanya mewujudkan lingkungan yang sehat dan bersih, maka perlu menjaga kebersihan di rumah dan di sekitar lingkungan. jika kedatangan tamu ke rumah atau ke desa, maka kesibukan membersihkan rumah dan lingkungan terasa dilakasnakan. Bahkan rumah atau desa dihiasi sedemikian rupa, agar tampak indah, asri dan bersih. Demikian juga sepatutnya dalam menyambut Ramadhan. Terlebih lagi Ramadhan adalah bulan ibadah (syharu ibadah). Tentunya setiap orang sangat menginginkan suasana ibadah yang nyaman dan khusyu’ dalam shalat lima waktu, tarawih, tadarus dan i’tikaf. Allah swt berfirman:
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusuk dalam shalatnya.” (Al-Mukminun: 1-2). Kekusyukan dalam ibadah akan mendatangkan ampunan Allah swt sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Jika kita menunaikan shalat lima waktu yang telah diwajibkan Allah Swt dengan whudu’ yang sempurna, tepat waktu dan penuh khusyuk, maka Allah berjanji akan mengampuni dosa-dosa kita. Orang yang tidak melakukan hal itu, dia tidak termasuk dalam janji Allah. Jika Allah menghendaki ampunan, maka Allah mengampuninya. Dan jika Allah menghendaki siksaan, maka Allah akan menyiksanya.” (HR. Abu Daud).
Kantor, rumah, masjid, langgar dan surau yang bersih dan indah tentu akan menciptakan suasana yang nyaman dalam beribadah, sehingga akan mendatangkan kekusyukan dalam beribadah. Sebaliknya jika kotor dan bau, tentu akan mengganggu kenyamanan dalam menunaikan ibadah sehingga menghilangkan kekusyukan. Apalagi sampai menimbulkan berbagai macam penyakit yang berbahaya akibat lingkungan yang kotor dan bau. Meskipun demikian kebersihan badan dan pakain juga menjadi priorotas untuk datang ke tempat penyelenggaraan shalat taraweh agar tidak menganggu kenyaman orang lain beribadah.
Keenam, persiapan harta benda dengan tujuan agar dapat memanfaatkan keberkahan Ramadhan, maka seyogianya seorang muslim menyiapkan sebahagian hartanya sebelum kedatangan Ramadhan. Ramadhan merupakan bulan amal shalih, di antara amal shaleh yang sangat digalakkan pada Ramadhan adalah berinfak dan bersedekah. Hal ini sesuai dengan sunnah Rasulullah saw dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abbas ra ia berkata:
“Rasulullah saw adalah orang yang paling dermawan, dan sikap kedermawaaannya semakin  bertambah pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril menemuinya untuyk mengajarkan al-Quran kepadanya. Dan biasanya Jibril mendatanginya setiap malam pada bulan Ramadhan untuk mengajari al-Quran. Sungguh keadaan Jibril sangat dermawan pada kebaikan melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka, sudah sepatutnya seorang muslim dalam Ramadhan mengikuti kedermawaan Rasulullah saw. Selain itu persiapan finansial ini juga sangat bermanfaat untuk keperluan bersahur dan berbuka puasa. Terlebih lagi bila ingin menu berbuka puasa mencukupi dan sesuai dengan standar gizi yang diperlukan oleh tubuh. Disamping itu tradisi akhir Ramadhan saat merayakan Idul Fitri juga untuk membayar kewajiban zakat diri (fitrah) untuk penyempurnaan pahala puasa yang dikerjakan dalam Ramadhan, bahkan yang terpenting juga adalah dalam rangka memeriahkan rasa kegembiraan merayakan Idul Fitri dengan berbagai serba pakaian baru.
Ketujuh, persiapan mental dan spiritualitas sebab ujian yang ditempuh selama Ramadhan bukan hanya ujian dalam aspek fisik belaka, namun juga dari sisi aspek spiritual dan mental menjadi sarana ujian bahkan sisi ini yang lebih banyak mendapatkan sorotan. Amat terasa bahwa ketika Ramadhan sesungguhnya sedang melatih kedewasaan spiritual agar menjadi lebih stabil dalam menjalani kehidupan selanjutnya di luar Ramadhan. Oleh karenanya mempersiapkan aspek mental dan spiritual untuk bertarung secara all out di Ramadhan adalah wajib tunaikan. Caranya memperbanyak ibadah sosial dan memperbanyak dzikir kepada Allah swt agar diberikan kekuatan mental dan spiritual ketika menjalani ibadah di Ramadhan.
Jiwa dan mental juga perlu persiapan, sehingga ketika menyambut Ramadhan dengan rasa penuh kegembiaraan dan tulus hati serta jiwa yang bersih. Siapkan diri untuk melakukan berbagai amal shalih dan ibadah pada Ramadhan. Karena pada bulan ini seseorang akan beribadah puasa dan lainnya dengan optimal dan fulltime selama sebulan penuh. Jiwa dan mental harus dipersiapkan dengan penuh keimanan dan ketulusan hati dalam beribadah. Dengan demikian, maka kesulitan dan sikap malas dalam ibadah bisa diatasi dan dihilangkan. Ibadah pun menjadi terasa mudah dan menyenangkan.  Selain itu, hendaklah menyucikan jiwa dengan cara bertaubat kepada Allah swt, agar jiwa bersih dari noda dosa. Demikian juga hendaklah membiasakan diri untuk melakukan ibadah-ibadah sunnah, seperti puasa sunnat, shalat sunnat dan memperbanyak membaca Al Quran. Sehingga terlatih dan terbiasa melakukan ibadah yang optimal.

Sabtu, 07 Juli 2012

Nikmatnya Bersyukur atas Nikmat Allah SWT

BERSYUKUR DAN SABAR SEBAGAI KUNCI KENIKMATAN HIDUP

Al Imam Ibnu Qudamah ra menjelaskan bahwa rasa syukur tidak akan menyampaikan tingkat kesempurnaan melainkan dengan mengetahui apa yang dicintai oleh Allah SWT, sehingga wajar jika beliau mengatakan:
“Ketahuilah bahwa syukur dan tidak kufur tidak akan sempurna melainkan dengan mengetahui segala apa yang dicintai oleh Allah SWT. Makna syukur adalah mempergunakan segala karunia Allah Ta’ala kepada apa yang dicintai-Nya dan kufur nikmat adalah sebaliknya. Bisa juga dengan tidak memanfaatkan nikmat tersebut atau mempergunakan pada apa yang dimurkai-Nya.”

Pengertian Syukur.
Ditinjau dari sudut lughawi syukur secara bahasa berarti nampak bekas makan pada badan binatang dengan jelas. Binatang yang syakur artinya apabila nampak pada kegemukan karena makan melebihi takarannya. Sedangkan syukur dalam tinjauan syara’ diartikan dengan nampaknya pengaruh nikmat Allah SWT., atas seorang hamba melalui lisan dengan cara memuji dan mengakuinya, melalui hati dengan cara meyakini dan cinta, serta melalui anggota badan dengan penuh ketundukan serta ketaatan nya. Sementara itu pendapat yang lain juga mengemukakan defenisi syukur, di antaranya:
1. Mengakui akan nikmat yang dikaruniakan dengann penuh ketundukan (hanif).
2.    Memuji (hamdalah) yang memberi nikmat atas nikmat yang diberikannya.
3.  Cinta hati (mahabbah al qulb) kepada yg memberi nikmat dan anggota badan dengan ketaatan serta lisan dengan cara memuji dan menyanjungnya.
4.    Menyaksikan (syahadah) kenikmatan dan menjaga keharaman (wara’).
5.    Mengetahui kelemahan diri dari bersyukur.
6.    Menyandarkan nikmat tersebut kepada pemberi dengan ketenangan (qalbun salaim).
7.    Melihat diri sendiri orang yang tidak pantas untuk mendapatkan nikmat.
8.    Mengikat nikmat yang ada dan mencari nikmat yang tidak ada.
Banyak definisi para ulama tentang syukur akan tetapi semuanya bisa saja dikembalikan kepada penjelasan Ibnul Qayyim sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Namun yang jelas syukur merupakan terminologi sebuah istilah yang digunakan pada pengakuan dan pengetahuan akan sebuah nikmat. Karena mengetahui nikmat merupakan jalan (thariqah) untuk mengetahui Dzat yang memberi nikmat yaitu Allah SWT, sehingga Beliau menamakan Islam dan Iman dalam Al Qur`an dengan syukur. Dari sini diketahui bahwa mengetahui sebuah nikmat merupakan rukun dari rukun-rukun syukur itu sendiri. Dengan demikian jika seorang mengetahui sebuah nikmat maka seyogianya mengetahui siapa yang memberi nikmat itu sendiri, saat seseorang telah mengetahui siapa yang memberi nikmat itu sudah tentu akan mencintainya dan akan terdorong untuk bersungguh-sungguh mensyukuri nikmatnya.

Hakikat Syukur.
Jika dilihat dari defenisi syukur di atas, maka sesungguhnya hakikat syukur akan memiliki 3 makna, yaitu:
1.Menerima nikmat tersebut dengan menampakkan butuh kepadanya, dan sampainya nikmat tersebut kepadanya bukan sebagai satu keharusan hak bagi Allah SWT., dan tanpa membeli dengan harga.
2. Mengetahui adalah sebuah nikmat, dengan pengertian lain akan menghadirkan dalam benak mempersaksikan dan memilahnya. Hal ini akan bisa terwujud dalam benak sebagaimana terwujud pada kenyataan. Sebab banyak orang yang jika kita berbuat baik kepadanya namun dia tidak mengetahui. Gambaran ini bukan termasuk dari rasa syukur.
3.    Memuji yang memberi nikmat. dalam hal ini ada dua bentuk yaitu umum (‘am) dan khusus (khas). Pujian yang bersifat umum adalah menyifati pemberi nikmat degan sifat dermawan kebaikan luas pemberian dan sebagainya. Pujian yang bersifat khusus adalah menceritakan nikmat tersebut dan memberitahukan bahwa nikmat tersebut sampai kepada dia karena sebab Sang Pemberi tersebut, sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam QS. Ad Dhuha ayat:
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Dan adapun tentang nimat Tuhanmu maka ceritakanlah.”
Sehingga menceritakan nikmat termasuk syukur, dengan menceritakan nikmat yang didapatkan kepada orang lain termasuk dalam kategori syukur. Hal ini berdasarkan hadits Nabi SAW:
مَنْ صَنَعَ إِلَيْهِ مَعْرُوْفًا فَلْيَجْزِ بِهِ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ مَا يَجْزِي بِهِ فَلْيُثْنِ فَإِنَّهُ إِذَا أَثْنَى عَلَيْهِ فَقَدْ شَكَرَهُ وَإِنْ كَتَمَهُ فَقَدْ كَفَرَهُ وَمَنْ تَحَلَّى بِمَا لَمْ يُعْطَ كَانَ كَلاَبِسِ ثَوْبَيْ زُوْرٍ
“Barangsiapa yang diberikan kebaikan kepadanya hendaklah dia membalas dan jika dia tidak mendapatkan sesuatu utuk membalas hendaklah dia memujinya.
Oleh karenanya jika memuji ketika diberi nikmat sungguh telah berterimakasih dan jika menyembunyikannya sungguh telah kufur, dan barangsiapa yang berselimut dengan sesuatu yang tidak diberi sama halnya dengan orang yang memakai dua ­baju kebohongan. Para ulama berpendapat bahwa dalam rangka menceritakan nikmat yang diperintahkan dalam ayat ini ada dua pendapat, yaitu:
1.    Menceritakan nikmat yang dimaksud dalam ayat ini adalah berdakwah di jalan Allah SWT., menyampaikan risalah-Nya dan mengajarkan umat manusia agar selalu bersyukur.
2.    Menceritakan akan nikmat tersebut dan memberitahukannya kepada orang lain seperti dengan ungkapan bahwa: Tuhan telah memberiku nikmat demikian dan demikian.
Pendapat tersebut di atas Al Imam Ibnul Qayyim ra mentarjih dengan perkataan beliau:
“Yang benar ayat ini mencakup kedua makna tersebut, karena masing-masing adalah nikmat yang diperintahkan untuk mensyukuri dengan jalan menceritakan dan menampakkannya adalah sebagai wujud kesyukuran.” Bahakan beliau berkata dalam sebuah atsar yang lain dan marfu’ disebutkannya”:
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيْلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيْرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللهَ، وَالتَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهُ كُفْرٌ وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ
“Barangsiapa tidak mensyukuri yang sedikit maka dia tidak akan mensyukuri atas yang banyak dan barangsiapa yang tidak berterimakasih kepada manusia maka dia tidak bersyukur kepada Allah SWT. Menceritakan sebuah nikmat kepada orang lain termasuk dari syukur dan meninggalkan adalah kufur bersatu adalah rahmat dan bercerai berai adalah azab.” (Lihat Madarijus Salikin 2/248).

Jalan Menuju Syukur.
Jalan menuju bersyukur adalah sebagai alat untuk melakukan syukur itu sendiri, oleh sebab itu Al Imam Ibnu Qudamah ra menjelaskannya sebagai berikut:
 “Syukur bisa dilakukan dengan hati (bil qalb), lidah (bi lisan) dan anggota badan (aljism). Adapun dengan hati adalah berniat untuk melakukan kebaikan dan menyembunyikan pada khayalak ramai. Adapun dengan lisan adalah menampakkan kesyukuran itu dengan cara memuji Allah SWT., artinya dengan menampakkan keridhaan kepada Allah SWT. Hal ini sejalan sabda Rasulullah SAW”:
التَّحَدُّثُ بِالنِّعَمِ شُكْرٌ وَتَرْكُهُ كُفْرٌ
“Menceritakan nikmat itu adalah wujud kesyukuran dan meninggalkannya adalh wujud kekufuran.
Bersykur dengan anggota badan dengan cara mempergunakan dalam ketaatan kepada a dan Allah SWT, menjaga diri dari berbuat maksiat seperti nikmat kedua mata dengan cara menutup tiap aib yang dilihat pada diri seorang muslim, kedua telinga menutup tiap aib yang didengar. Al Imam Ibnul Qayyim menjelaskannya:
“Syukur itu bisa dilakukan oleh hati dgn tunduk dan kepasrahan oleh lisan dgn mengakui ni’mat tersebut dan oleh anggota badan dgn ketaatan dan penerimaan.”

Tingkatan Syukur
Syukur memiliki tiga tingkatan, yaitu:
1.      Bersyukur mendapatkan apa yang disukai, tingkat syukur ini bisa juga dilakukan orang Islam dan non Islam seperti Yahudi dan Nasrani bahkan Majusi. Namun Al Imam Ibnul Qayyim ra telah menjelaskan:
“Jika engkau mengetahui hakikat syukur dan di antara hakikat syukur adl menjadikan ni’mat Imamtersebut membantu dlm ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mencari ridha-Nya niscaya engkau akan mengetahui bahwa kaum musliminlah yg pantas menyandang derajat syukur ini”.
Siti ‘Aisyah ra telah menulis surat kepada Mu’awiyah ra sebagai berikut:
“Sesungguh tingkatan kewajiban yang paling kecil atas orang yang diberi nikmat adalah tidak menjadikan nikmat tersebut sebagai jembatan untuk bermaksiat kepada Allah SWT.
2.      Mensyukuri sesuatu yang tidak disukai, bagi orang yang melakukan jenis syukur ini adalah orang yang sikap sama dalam semua keadaan sebagai bukti keridhaannya. Al Imam Ibnul Qayyim ra telah menjelaskan:
“Bersyukur atas sesuatu yang tidak disukai lebih berat dan lebih sulit dibandingkan mensyukuri yang disenangi, oleh sebab itulah syukur yang kedua ini di atas jenis syukur yang pertama.
3.    Seseorang seolah-olah tidak menyaksikan dalam kehidupannya kecuali Yang memberi kenikmatan itu sendiri yaitu Allah SWT, artinya bila melihat yang memberi kenikmatan dalam rangka ibadah dia akan menganggap besar nikmat tersebut. Dan bila dia menyaksikan yang memberi kenikmatan karena rasa cintanya niscaya semua yang berat akan terasa manis baginya.

Korelasi Manusia dan Syukur.
Sebagaimana yang diketahui bahwa syukur merupakan salah satu sifat yang terpuji dan sifat yang dicintai oleh Allah SWT, akan tetapi tidak semua orang bisa mendapatkannya, dengan arti kata lain ada yang diberi oleh Allah SWT dan ada pula yang tidak. Sehingga dapat dikatakan bahwa manusia dan syukur terbagi menjadi tiga golongan:
a.       Orang yang mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.
b.      Orang yang menentang nikmat yang diberikan alias kufur nikmat.
c.   Orang yang berpura-pura syukur padahal dia bukan orang yang bersyukur, sehingga yang seperti ini diumpamakan dengan orang yang berhias dengan sesuatu yang tidak dia tidak miliki.

Argumentasi Harus Bersyukur.
Diantara dalil yang dapat dikemukakan kewajiban bersyukur adaalah:
وَاشْكُرُوا لِلهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ
“Bersyukurlah kalian kepada Allah jika hanya kepada-Nya kalian menyembah.”
فَاذْكُرُوْنِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلاَ تَكْفُرُوْنِ
“Maka ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengingat kalian dan bersyukurlah kalian kepada-Ku dan jangan kalian kufur.”
وَاعْبُدُوْهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
“Dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya dan kepada-Nya kalian dikembalikan.”
وَسَيَجْزِي اللهُ الشَّاكِرِيْنَ
“Dan Allah akan membalas orang-orang yg bersyukur.”
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ
“Dan ingatlah ketika Rabb kalian memaklumkan: Jika kalian bersyukur niscaya Kami akan menambah dan jika kalian mengkufuri sungguh azab-Ku sangat pedih.”
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata:
أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُوْمُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ، فَقَالَتْ عَائِشَةُ: لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَقَدْ غَفَرَ اللهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ؟ قَالَ: أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُوْنَ عَبْدًا شَكُوْرًا؟
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun di malam hari sampai pecah-pecah kedua kaki beliau lalu ‘Aisyah berkata: ‘Ya Rasulullah kenapa engkau melakukan yg demikian padahal Allah telah mengampuni dosamu yg telah lewat dan akan datang?’ Beliau menjawab: ‘Apakah aku tdk suka menjadi hamba yg bersyukur?’”
Masih banyak dalil lain yg menjelaskan tentang keutamaan syukur dan anjuran dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Semoga apa yg dibawakan di sini mewakili yg tdk disebutkan.

Akibat Tidak Bersyukur.
Yang tdk bersyukur lbh banyak dari yg bersyukur. Hal ini tdk bisa dipungkiri oleh orang yg berakal bersih. Sebagaimana orang yg ingkar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala lbh banyak dari yg beriman. Demikianlah keterangan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dlm firman-Nya:
وَقَلِيْلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ
“Dan sedikit dari hamba-hambaKu yg bersyukur.”
Sebuah peringatan tentu akan bermanfaat bagi orang yg beriman. Di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan dari kufur ni’mat setelah memerintahkan utk bersyukur dan menjelaskan keutamaan yang akan di dapati sebagaimana penjelasan Al-Imam As-Sa’di rahimahullahu dalam tafsir beliau:
“Jika seseorang bersyukur niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengabadikan ni’mat yg dia berada pada dan menambah dgn ni’mat yg lain.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ
“Dan Rabb kalian telah mengumumkan jika kalian bersyukur niscaya Kami akan menambah dan jika kalian mengkufuri sungguh azab-Ku sangat pedih.”
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu menjelaskan:
“Jika kalian mengkufuri ni’mat menutup-nutupi dan menentang mk yaitu dgn dicabut ni’mat tersebut dan siksa Allah Subhanahu wa Ta’ala menimpa dgn sebab kekufurannya.Dan disebutkan dlm sebuah hadits: ‘Sesungguh seseorang diharamkan utk mendapatkan rizki krn dosa yg diperbuatnya’.”